Mengutip Karina Leksono Supelli dalam tulisannya menyambut histeria yang terjadi pada peralihan era Pisces♓️ ke era Aquarius♒️ ini:
Ini semua karena manusia memerlukan epok, pembatasan yang membingkai tindakannya karena eksistensinya yang terbatas senantiasa mencemaskan dirinya sendiri.
Untuk beberapa garis generasi, transisi tahun 2000 terasa sama seperti tahun-tahun sebelumnya. Tetap penuh gejolak. Meyakinkan ini adalah sebuah
azab
atas kejahatan-kejahatan yang terjadi sebelum kabar burung mengenai kutu-kutu millenium ini berhamburan.
Sudah menuju periode ke-enam. Padahal, wajibnya adalah lima: pagi, siang, sore, petang, dan malam. Mau ditambahkan seperti apa lagi? Terlalu kenyang tidak baik untuk perut. Dua kali seperti saat ini pun juga sudah dirasa terlalu banyak.
𝐻𝒶𝓇𝒶𝓅𝒶𝓃 akan kemajuan teknologi terutama internet tidak dapat dipungkiri. Kemudahan untuk menyebarkan informasi dalam tempo sesingkat-singkatnya. Terserah mau benar atau dibuat benar. Informasi adalah emas yang kemudian hari bisa menjadi sebuah arus yang tidak terbendung, bahkan menjadi sebuah bom waktu.
Perangko Repelita V, emisi 1991
Perangko Tahun Telekomunikasi, emisi 1997
Ⓘⓜⓐⓙⓘⓝⓐⓢⓘ akan ketepatan, efisiensi, dan keefektifan menjadi sesuatu yang absolut. Segala sesuatu menjadi terukur. Tinggi bangunan itu, beban benda tersebut, melihat kecenderungan dari angka-angka, hingga menemukan sebuah kemungkinan dari suatu fenomena⎯di masa mendatang. Berawal dari 1+1, lalu dilanjutkan hingga tak terbatas. Ⓘⓜⓐⓙⓘⓝⓐⓢⓘ ini membuat manusia untuk membayangkan sebuah mobil terbang, smartphone, smartTV, hingga menjadi sebuah motivasi untuk membangun semacam Silicon Valley di Sukabumi: Bukit Algoritma.
Bayangan akan masa depan. Bayangan akan salah satu area di Bukit Algoritma.
Skema Subang Smartpolitan
…Dalam bentuk yang lain, ⓘⓜⓐⓙⓘⓝⓐⓢⓘ dapat dimanifestasikan sebagai motif untuk mendapatkan dan lalu melanggengkan kekuatan.
Di tengah usaha merealisasikan serpihan-serpihan ⓘⓜⓐⓙⓘⓝⓐⓢⓘ tersebut. Kesalahan tidak akan terlewatkan. Kesalahan adalah sesuatu hal yang manusiawi. Namun, jangan lupakan faktor-faktor lain yang ˢᵉᵏᵉᶜⁱˡ ᵏᵘᵗᵘ hingga yang tak kasat mata. Meskipun kelihatannya sepele, nila setitik rusak susu sebelanga.
Dari tahun ke tahun, 🅃🄴🄺🄽🄾🄻🄾🄶🄸 makin diandalkan. Pembukuan, pengarsipan, korespondensi, dan lain-lain makin getol dilakukan dengan menggunakan komputer. Seiring dengan kemajuan dan perkembangan ini, h̴̨̯̳̠̘̠̃u̸̟̜̫͂̀̀̿̽͋̆̓̚͝ͅr̶̢̘̬̗̬͉̔̓̈́̑̾̂̊͜ȕ̷͕̺̽̽͗̀̉̒ͅ-̷̛̼͍͈̮̣͕̫̫̋̆͂̄̑̽͆h̸̙̀̔̾̓̏̒̍̎̕͘a̶͗̍̈͋̄̑͝ͅr̴̤̒̔̒̓̉́̎ą̸̢̩͓͎̭̔͒͂͐̐̀̎͝ politik di sini juga ikut mengiringi. Semakin mendekati millenium baru, semakin terasa ketegangan dan ketakutan akan dua peristiwa yang tidak tahu akan bagaimana akhirnya.
Terdengar kabar dari dunia barat: ada potensi kerusakan yang masif. Dimulai dari angka “0”.
Histeria tentang 𝔨𝔲𝔱𝔲 𝔪𝔦𝔩𝔩𝔢𝔫𝔦𝔲𝔪 ini disebabkan karena adanya dugaan kesalahan sistem komputer maupun teknologi lain dalam penerjemahan angka “0” setelah tahun 1999. Bukan ke tahun 2000, melainkan ke tahun 1900. Kekhawatiran ini merebak tidak hanya pada kerusakan sistem mesin, tapi juga ke perbankan, hingga telekomunikasi. Bahkan lebih jauh dari itu, hanya karena angka “0” ini, data komputer yang hilang, radiasi yang diakibatkan oleh sinyal, kecelakaan dalam jumlah yang besar, hutang kredit yang membengkak dari dihitung dari tahun 1900, hingga bencana alam.
Kabar ini sempat kehilangan gaungnya karena kita disibukkan dengan urusan-urusan dalam negeri, yaitu melihat kebobrokan-kebobrokan para aparatur. Rezim Orba pun saat itu juga mulai berceceran. Kesenjangan ekonomi dan inflasi yang ada pun juga membuat kita tidak dibuat makin pusing dengan adanya ᵏᵘᵗᵘ millenium ini. Sepenuhnya diserahkan kepada para pemilik modal dengan nilai yang gigantik itu, pemangku jabatan, dan para ahli komputer.
Telah lama kita dibuai oleh kesenangan semu. Pernyataan ini membayangi kita semua.
Piye? Enak jamanku, to? (Bagaimana, lebih enak jamanku, kan?)